Selasa, 07 Februari 2017 - 20:31:14 WIB
Napak Tilas Penyebaran Islam Di Nusantara Oleh Wali Songo
Diposting oleh : novriadhiatma
Kategori: Pendidkan - Dibaca: 168 kali

 

 (PENULIS: ARY NU’MANU CHAIRI, M.PD.I)

Mengenal para wali songo menjadi catatan sejarah yang amat penting, karena dengan mengenal mereka maka kita dapat mengetahui bagaimana perjuangan, semangat, dan pengorbanan mereka saat menegakkan syiar Agama Islam di bumi Nusantara. Hasilnya dapat kita rasakan sampai hari ini, bahkan faktanya agama Islam menjadi agama mayoritas di Indonesia. Bahkan penduduk negara dengan populasi penduduk beragama Islam terbesar di dunia adalah Indonesia. Mengenal para wali songo merupakan satu refleksi kebangsaan-keagamaan yang perlu menjadi tauladan bersama. Para wali songo di nusantara dikenal sebagai sembilan tokoh penyebar agama Islam yang paling populer. Para wali songo atau sembilan tokoh wali yang menyebarkan agama Islam di Nusantara pada sekitar abad 14, sebelum hadirnya para penjajah yang menduduki Nusantara pada sekitar abad 17-18 an. Sembilan wali yang dikenal wali songo, antara lain adalah Sunan Gresik dengan nama asli Maulana Malik Ibrahim, Sunan Ampel dengan nama asli Raden Rahmat, Sunan Bonang dengan nama asli Makhdum Ibrahim, Sunan Drajat dengan nama asli Raden Qasyim, Sunan Kudus dengan nama asli Ja’far Shadiq, Sunan Giri dengan nama asli Ainul Yaqin atau Raden Paku, Sunan Kalijaga dengan nama asli Radin Said, Sunan Muria yang merupakan putra Sunan Kalijaga bernama Raden Umar Said dan terakhir adalah Sunan Gunung Jati yang bernama asli Syarif Hidayatullah. Berikut penjelasannya:

1) Sunan Gresik. Sunan Gresik merupakan keturunan ke-22 dari Nabi Muhammad saw yang juga dikenal dengan Sunan Thandes. Sunan Gresik membangun sebuah Pondok Pesantren di daerah Leran, Gresik. Sunan Gresik dianggap sebagai wali paling tua yang menyebarkan agama Islam di tanah Jawa. Sunan Gresik wafat pada sekitar tahun 1419 dan di makamkan di Desa Gapura Wetan, Gresik Jawa Timur.

2) Sunan Ampel. Nama aslinya adalah Raden Rahmat dan beliau merupakan sesepuh dari para wali sembilan lainnya. Sunan Ampel adalah anak dari Ibrahim Zainuddin al-Akbar dan dari seorang putri Champa bernama Dewi Condro Wulan. Sunan Ampel menjadi salah satu aktor yang mengakhiri kekuasaan Majapahit dan melahirkan Kesultanan Demak Bintaro yang bercorak agama Islam dengan Raden Patah sebagai raja. Sunan Ampel mempunyai Pesantren di Ampel Denta, Surabaya. Saat ini, makam Sunan Ampel berada di dekat Masjid Ampel Surabaya.

3) Sunan Bonang. Beliau adalah keturunan ke-23 dari Nabi Muhammad saw. Sunan Bonang adalah anak dari Sunan Ampel dengan perkawinannya bersama Nyai Ageng Manila yang merupakan Putri dari Adipati Tuban yang bernama Arya Teja. Sunan Bonang memiliki ciri khas dalam menyebarkan agama Islam yaitu melalui kesenian. Salah satu ciptaan Sunan Bonang adalah Suluk Wijil dan Tombo Ati. Karena kehebatan beliau dalam syiar agama Islam melalui kesenian maka Universitas Leiden (Kampus ternama di Belanda) memiliki sebuah buku yang berisi ajaran-ajaran Sunan Bonang bernama Het Boek van Bonang. Sunan Bonang wafat sekitar tahun 1525 dan makamnya terletak di daerah Tuban, Jawa Timur.

4) Sunan Drajat. Yang bernama asli Masih Munat atau Raden Qasyim adalah anak dari Sunan Ampel yang merupakan keturunan ke-23 dari Nabi Muhammad saw. Dakwah yang dilakukan oleh Sunan Drajat adalah melaluli pendekatan sosial. Dilihat dari silsilahnya, Sunan Drajat adalah saudara kandung dari Sunan Bonang. Peninggalan karya dari Sunan Drajat adalah Macapat Pangkur dan meninggalkan Gamelan Singomengkok yang tersimpan begitu indah di Museum Daerah Sunan Drajat, Lamongan, Jawa Timur. Sunan Drajad wafat pada tahun sekitar 1522.

5) Sunan Kudus. Sunan Kudus merupakan keturunan ke-24 dari Nabi Muhammad saw. Yang lahir dari perkawinan Sunan Ngundung dengan Syarifah Ruhil atau yang dikenal dengan Nyai Anom. Sunan Kudus memiliki peranan penting dalam berdirinya kerajaan Demak Bintaro. Sunan Kudus juga merupakan panglima perang atau senopatinya Kesultanan Demak yang juga merupakan penasehat Sultan Demak dan juga Hakim Peradilan Negara. Sunan Kudus lebih memilih berdakwah di kalangan penguasa atau priyayi. Salah satu murid Sunan Kudus yang paling populer adalah pangeran Arya Penangsang, Sunan Prawoto sebagai keturunan Raden Patah, termasuk Sultan Hadiwijaya atau Joko Tingkir. Peninggalan paling berharga dari Sunan Kudus adalah Menara Kudus yang memiliki gaya arsitektur Islam dan Hindu. Sunan Kudus wafat sekitar tahun 1550 dan di makamkan di sekitar Menara Kudus.

6) Sunan Giri. Beliau adalah anak dari Maulana Ishaq. Sunan Giri adalah murid dari Sunan Ampel dan masih seperguruan dengan Sunan Bonang. Sunan Giri mendirikan pemerintahan secara mandiri di wilayah Giri Kedaton, Gresik, Jawa Timur. Sunan Giri sangat berperan dalam penyebaran agama Islam di wilayah Jawa dan Indonesia bagian Timur.

7) Sunan Kalijaga. Beliau adalah murid dari Sunan Bonang yang dikenal dengan dakwah akulturasi antara Islam dan Jawa yang sangat kental. Sunan Kalijaga biasa memakai kesenian dan budaya sebagai media dakwah, misalnya wayang kulit dan tembang suluk. Salah satu tembang ciptaan Sunan Kalijaga yang paling populer dan sangat fenomenal adalah Lir-Ilir dan Gundul-gundul Pacul. Makam Sunan Kalijaga berada di Demak, Jawa Tengah.

8) Sunan Muria. Sunan Muria merupakan anak dari Sunan Kalijaga dengan Dewi Sarah. Sunan Muria sendiri menikah dengan Dewi Sujinah yang merupakan adik Sunan Kudus. Makam Sunan Muria berada di Pegunungan Muria, Kudus, Jawa Tengah.

9) Sunan Gunung Jati. Beliau bernama lengkap Syarif Hidayatullah yang merupakan cucu dari Prabu Siliwangi dan anak dari Nyai Rara Santang. Dalam menyebarkan agama Islam, Sunan Gunung Jati terpaksa harus melawan rezim penguasa kakeknya sendiri, yaitu Prabu Siliwangi yang masih menganut agama Hindu dan tidak mau diIslamkan. Sunan Gunung Jati mendirikan sebuah negara merdeka di Cirebon yang akhirnya lahir Kesultanan Cirebon. Sementara itu, Maulana Hasanuddin, anak Sunan Gunung Jati berhasil bereskpansi dan menyebarkan Islam di wilayah Banten dan mendirikan kesultanan Banten.

Demikianlah sejarah napak tilas tentang sembilan wali yang dikenal dengan WALI SONGO di mana kesembilan wali tersebut memegang peranan penting dalam penyebaran agama Islam di Jawa dan Nusantara. Oleh karenanya, mengenal para WALI SONGO sebagai tokoh sentral dalam penyebaran agama Islam di Nusantara menjadi catatan sejarah panjang lahirnya Islam di Tanah Jawa khususnya dan di Nusantara umumnya. Maka sungguh amat disayangkan jika akhir-akhir ini muncul suatu pemahaman dari sebagian kaum muslimin Indonesia yang tidak percaya akan adanya dakwah WALI SONGO di Nusantara, kalau bukan karena jasa-jasa mereka (Wali Songo) maka mungkin saja hari ini umat Islam Indonesia tidaklah berAgama Islam. Terakhir saya kutipkan pendapat dari seorang Cendekiawan Muslim Indonesia Prof. Dr. KH. Said Aqil Sirodj, beliau mengatakan: “Islam yang berkembang di kawasan Nusantara adalah warisan para wali atau ‘Ulama’ leluhur kita. Mereka berhasil menyebarkan Islam ke seluruh wilayah Nusantara, berhadapan dengan Majapahit, Sriwijaya, dan Kerajaan-kerajaan lain. Mereka berhasil mengIslamkan bangsa ini tanpa kekerasan, tanpa berdarah-darah, tapi dengan pendekatan budaya Akhlakul Karimah. Ini menunjukkan Islam itu berperadaban, bermartabat, disiplin, dan bersih penampilannya.”

Sumber Gambar : http://www.almuhibbin.com/2016/08/sejarah-lengkap-manaqib-walisongo di.html

 

Komunitas Pijar " Bersama Menebar Kebaikan"

 



0 Komentar :